oleh

Wali Kota Jakarta Barat Minta Warga Jangan Boros Gunakan Air

infobumi.com –Musim kemarau berkepanjangan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, lewat Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan, mengeluarkan peringatan dini ancaman kekeringan yang melanda sebagian besar wilayah DKI Jakarta dan Banten.

Wilayah tersebut mengalami deret hari tanpa hujan (HTH) atau hari kering lebih dari 20 hari hingga lebih dari 60 hari. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat memperkirakan puncak musim kemarau di wilayah DKI Jakarta akan berlangsung pada bulan September 2019.

Dampaknya, akan terjadi pengurangan ketersediaan air tanah, sehingga menyebabkan kelangkaan air bersih. Hal tersebut juga diakui Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Juaini.

Karenanya semua wilayah di Ibu Kota memasuki musim kemarau dan diperlukan kewaspadaan terkait ancaman bencana peringatan dini kekeringan. Salah satu wilayah yang berstatus siaga adalah Jakarta Barat.

Wali Kota Jakarta Barat Rustam Effendi disela-sela acara Sentra Flona Semanan, Kalideres saat dikomfirmasi menyampaikan, saat kondisi sekarang ini dirinya menghimbau kepada PT PAM Lyonnaise Jaya (PLYJA) harus mengantisipasi kepada masyarakat di Jakarta Barat yang belum tersupai oleh air bersih. Karena tidak ada jaringan PAM,” .

“Solusinya didrop melalui depot-depot air yang dikembangkan oleh PD PAM. Ada kios-kios air disana dan benar- benar dipastikan kebutuhan air bersih terpenuhi,” katanya, Jumat (23/08/2019).

Dirinya juga menghimbau, kedepan kepada masyarakat jangan boros dan sebisa mungkin hemat dalam penggunaan air. Dipastikan juga masyarakat tidak kekurangan melalui pasokan-pasokan air. Ini dilakukan guna mengantisipasi bencana kekeringan. Mudah-mudahan ini baru diprediksi.

“Didominasi kekeringan lebih banyak di wilayah Kalideres, seperti Tegal Alur, Pegadungan, Kamal dan Semanan. Sedangkan diwilayah Cengkareng berada di Kapuk. Bahkan didaerah saya tinggal di Kembangan Meruya sampai saat ini belum ada saluran pipa PAM karena masih mengunakan air tanah, paling tidak kalau bisa menghemat air yang ada. Terutama air tanah. Kalau banyak diambil, air laut jadi masuk karena ada penurunan tanah,” tandasnya.

Komentar

Berita Terkait