oleh

BPSDM Kemendagri Gelar Webinar Manajemen Kebakaran Lahan Gambut Berbasis Teknologi

infobumi.com, Jakarta – Guna meningkatkan pengetahuan serta ketangguhan ancaman bencana kebakaran hutan gambut di Indonesia, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemendagri bekerjasama dengan Balai Pengembangan Kompetensi Pemadam Kebakaran dan Satpol PP Kemendagri mengadakan Webinar Manajemen Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut Berbasis Teknologi.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Teguh Setyabudi mengapresiasi kegiatan webinar yang diselenggarakan Balai PK Satpol PP dan Damkar.

Di bawah tanggung jawab BPSDM Kemendagri, Teguh berharap kegiatan ini bisa mewujudkan ASN yang lebih baik.

“Pemadam kebakaran mempunyai misi operasi keselamatan, baik jiwa maupun harta benda,” kata Teguh.

Menurut Teguh, petugas pemadam kebakaran sangat dibutuhkan masyarakat. Oleh sebab itu, melakukan pengembangan kompetensi skill dinilai sangat penting.

“Kalau bukan kita siapa lagi. Jadi harus bangga dengan profesi Damkar,” ucap Kepala BPSDM Kemendagri dalam acara Webinar Manajemen Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut Berbasis Teknologi dalam Implementasi Tugas Pemadam Kebakaran, Kamis, (9/92021).

Baca Juga:  BPBD Kota Tangerang Bersama Kapolsubsektor Palem semi Giat Penyemprotan Disinfektan di Wilayah Palem Semi

Menariknya, webinar ini diikuti hampir 1500 peserta yang tergabung dari petugas Damkar dan Satpol PP di seluruh Indonesia.

Seperti diketahui, lahan gambut merupakan tempat cadangan karbon yang besar. Terbentuk dari tumpukan serpihan kayu yang terendam air sekitar tahun 9.600 sebelum Masehi.

Dalam webinar itu, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) Prof. Ir, Yulianto S Nuggroho memaparkan, Negara berlambang Merah Putih ini mempunyai ribuan kepulauan yang elok dan indah. Sumatera dan Kalimantan adalah salah satu pulau besar yang terdapat lahan gambut.

“Namun yang terjadi, lahan gambut menimbulkan bencana. Kebakaran melanda wilayah setempat,” kata Yulianto.

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia seolah-olah telah menjadi agenda tahunan yang kerap terjadi di musim kemarau.
Meskipun pemerintah telah berupaya melakukan pencegahan dan penindakan terhadap pelaku pembakaran, karhutla selalu hampir setiap tahun khususnya beberapa daerah di pulau Sumatra dan Kalimantan. Oleh sebab itu, petugas pemadam kebakaran yang mempunyai misi sosial kemanusiaan, harus lebih aware dalam menyikapi bencana kebakaran lahan gambut tersebut. Petugas dapat bereksperimen mencari tahu penyebab kebakaran di lapangan.

Baca Juga:  Badan Litbang Kemendagri Bahas Peran Pemda serta Institusi Politik dalam Penanganan Pandemi Covid-19 dan Dampak Sosial Ekonominya

Penyebab Lahan Gambut Mudah Terbakar?
Yulianto menjelaskan, secara alamiah, kebakaran lahan gambut di hutan tropis jarang terjadi. Bencana tersebut muncul disebabkan oleh faktor alam dan manusia. Perubahan iklim misalnya, lanjut dia, telah menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang. Sehingga air di ekosistem gambut mudah surut dan lama-kelamaan menjadi kering.

Selain itu, pengeringan lahan gambut sering dilakukan secara sengaja untuk mengubah gambut menjadi lahan industri pertanian dan perkebunan.

“Pembukaan pertanian, perkebunan dapat mengubah kelembaban udara atau tanah. Akibatnya tanah akan terekspos langsung dengan cahaya matahari,” ujarnya.

Menyikapi ini, petugas Damkar bisa memanfaatkan Informasi teknologi, guna mencegah risiko tersebut. Petugas bisa memantau kondisi iklim melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Baca Juga:  Perkuat SP4N-LAPOR!, Kemendagri dan Kementerian Kominfo Bakal Dilibatkan

“Hotspots (titik api) muncul meningkat saat kemarau. Biasanya kemarau itu terjadi pada Maret, April, Juli sampai September,” ucapnya.

Berdasarkan karakternya, panas kebakaran gambut seperti menyalakan batang rokok. Kecepatannya tergantung dengan kondisi lahan. Jika relatif kering, gambut akan cepat terbakar. “Api akan terlihat setelah ada pohon kering yang terbakar,” katanya.

Untuk mencegah kekeringan lahan gambut, petugas perlu melakukan operasi keselamatan lebih dini. Misalnya memperbanyak kegiatan penghijauan. Hal itu berguna agar air yang ada di dalam dump atau rawa tidak cepat hilang.

Puspen Kemendagri

(Red)

Komentar

Berita Terkait