oleh

Forum Pariwisata Global Gelar Tours Conference Hybrid,Tips Bisnis Baru Di Pariwisata

Menurut Chairman Indonesia Tourism Forum Dr Sapta Nirwandar, Global Tourism Forum yang bertajuk “Recovery and Beyond Summit 2020” merupakan salah satu upaya menarik investasi baru untuk industri pariwisata serta menyosialisasikan sistem model bisnis baru industri kepariwisataan.

Acara yang digelar di Pullman Jakarta, Center Park ini ditayangkan secara sreaming melalui aplikasi zoom dan channel Global Tourism Forum. Para pelaku pariwisata termasuk sektor UMKM kepariwisataan bisa nimbrung acara ini secara gratis dengan registrasi melalui link Bit.ly/RBS20jkt. Para calon peserta yang mengklik link tersebut akan terhubung ke link zoom https://us02web.zoom.us/j/89409082485 dengan Meeting ID: 894 0908 2485.

Forum Pariwisata Global ini menghadirkan narasumber seperti Presiden Of Tourism Forum Institute Bulut Bagci, Ni Wayan Giri Adnyani Sekretaris Kementerian Pariwisata, Wamen Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar, mantan Menkominfo Rudiantara, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria.

Baca Juga:  PSBB DKI, Mulai 14 September Taman Impian Jaya Ancol Tutup Lagi

Untuk sesi industri pariwisata, akan ada pemateri dari presiden Aseanta Chairman Asita dan Sekjen PHRI, dan akan ada sesi pembahasan investasi kepariwisataan. Diharapkan webinar ini diikuti oleh para pelaku pariwisata di indonesia terutama sektor UMKM yang berhubungan dengan kepariwisataan.

Pesertanya bisa ikut secara gratis melalui streaming zoom dan lve di youtub global Tourism forum dari pukul 09.30 hingga pukul 16.30.

Menurut Chairman Forum Pariwisata Indonesia Dr. Sapta Nirwandar, Global Tourism Forum ini digelar untuk mempercepat pulihnya perekonomian, khususnya di sektor pariwisata karena sudah lebih enam bulan Pandemi Covid-19 melanda. Menurutnya, sejumlah negara di ASEAN dan negara lainnya berlomba-lomba mencari trik untuk memulai menumbuhkan perekonomian. Setiap negara tentu tidak mau terus terisolasi akibat pandemi ini.

“Sektor yang paling terdampak berat akibat pandemi adalah industri pariwisata. Bahkan, kontraksinya mencapai 80 persen tahun ini. Ini sesuai dengan data organisasi pariwisata dunia UN World Tourism Organization (UNWTO). Dunia pariwisata mengalami masa sulit dalam 6 bulan terakhir akibat pandemi, karena negara-negara melarang warganya untuk bepergian. Ini berakibat pada anjloknya industri pariwisata karena tidak ada turis yang datang ke setiap tujuan wisata. Perekonomian nasional negara-negara ASEAN juga terpengaruh karena umumnya pariwisata menyumbang pendapatan di setiap negara. Negara-negara ASEAN mesti memikirkan untuk menghidupkan kembali industri pariwisata. Tidak hanya untuk menopang industri, tetapi juga untuk bertahan hidup sebagai bangsa,” kata Sapta Nirwandar yang jutga mantan Wamen Pariwisata RI ini.

Baca Juga:  Bordir Flash,Bordir komputer Cepat Berkualitas

Kata Sapta Nirwandar, upaya pemulihan pariwisata membutuhkan inovasi dari industri karena akan ada perubahan permintaan konsumen akibat pandemi dan juga pasar sasaran. “Turis mancanegara juga perlu dibujuk kembali agar mengunjungi destinasi-destinasi favorit mereka di ASEAN. Pelaksanaannya tetap dengan mematuhi protokol kesehatan di normal baru ini. Penggunaan teknologi canggih sudah sangat bisa membantu perjalanan para turis,” Kata Dr. Sapta Nirwandar yang juga Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC).

Dirincikan Sapta Nirwandar acara webinar hybrid ini dibagi menjadi tiga sesi, dengan diawali sesi utama pariwisata bertema “Memperkuat Kerja Sama Regional untuk Masa Depan Pariwisata di Negara-negara ASEAN”. Sesi ini pertama ini, perwakilan negara-negara Asia akan membahas masa depan pariwisata di masing-masing negara dan kemungkinan kerja sama kawasan untuk meningkatkan industri pariwisata pasca pandemi. Di sesi ini akan ada perwakilan dari amsing-masing negara dan Presiden World Tourism Forum juga akan memaparkan kondisi pariwisata global dan masa depan.

“Lalu sesi kedua tentang industri pariwisata yang tujuannya untuk menemukan kembali industri pariwisata dan model bisnis baru. Sesi ini akan menegaskan perspektif dari asosiasi pariwisata di ASEAN dan kementerian pariwisata Indonesia untuk menemukan kembali industri dan bisnis pariwisata. Mereka memaparkan peluang pasar saat ini dan apa yang diperlukan untuk menghidupkan kembali industri setelah pandemi, termasuk untuk mengantisipasi permintaan pelanggan dan mendapatkan kembali wisatawan internasional pasca Covid19,” sebutnya.

Baca Juga:  Fintech IKredo Bersama Bank Banten  Siap Bantu Pelaku Bisnis UMKM

Menurut Sapta Nirwandardi sesi terakhir akan ada pembicara tentang cara mengaet inbestasi pariwisata yang kini terhenti. “Masa depan, pariwisata dapat menyimpan berbagai kemungkinan dan peluang bagi para investor, terutama dengan hal-hal baru yang normal dan sangat dibutuhkan penggunaan teknologi canggih. Sesi ini akan melihat dari dekat perspektif investor untuk pariwisata masa depan,” bebernya.

Sapta Nirwandar juga menyebutkan target audien acara ini yakni dari biro perjalanan dan operator tur, pengusaha lokal dan asing, kelompok investasi dan bankir, perusahaan konsultan investasi, politisi, eksekutif senior, otoritas publik, ahli strategi dan ahli teknologi di industri perjalanan, terutama dari anggota ASEAN & negara Asia lainnya.

“Yang ikut kegiatan ini akan mendapatkan gambaran dan pengetahuan tentang masa depan industri pariwisata, model bisnis baru yang dibutuhkan untuk menghidupkan kembali pariwisata serta peluang untuk investasi, kerjasama di ASEAN bahkan negara-negara Asia lainnya. (Red/ smsi kab Tng)

Komentar

Berita Terkait